“KAMAR nomor 1808, kerjakan sesuai keahlianmu,” ujar seorang perempuan dalam telepon.
“Bayarannya? Saya tak mau tertunda,” jawab seorang laki-laki diseberang.
“Beres, nanti aku ikut denganmu, aku ingin pastikan saja ..” kata-katanya belum selesai telah dipotong laki-laki bayaran itu.
“Siap, sesuai perjanjian.”
“Oke, aku tunggu,” perempuan itu pun menyudahi pembicaraan.
**
Hari masih siang, ketika sebuah mobil berhenti di depan lorong sudut kota itu. Tapi hari itu, langit tampak gelap. Angin dari barat berhembus kencang, sepertinya sebentar lagi turun hujan.
Sampah-sampah kertas dan plastik melayang-melayang. Ia berputar-putar, jatuh tepat di kaki seorang perempuan yang baru saja turun dari sedan hitam. Badannya langsing dengan pakaian hitam terlalu minimm, tingginya kira-kira 160 cm, berambut sebahu dan ikal, memakai rok pendek sehingga membuat kakinya tampak begitu jenjang. Kepulan asap rokok keluar dari mulutnya.
Kedua orang laki-laki bertubuh besar mengeluarkan barang dari bagasi mobil, setelah menerima kode dari perempuan itu. Tanpa banyak bicara, kedua laki-laki menggotong sebuah karung besar dan ditempatkan di dekat tong, bersama sampah-sampah lainnya.
Perempuan itu kembali masuk mobil, sembari mengamati sekitarnya. Kaki kanannya terlebih dulu masuk, ia menghisap lagi rokoknya, dua kali hisapan, setelah itu dibuangnya. Dua laki-laki besar itu lekas-lekas mengikutinya. Mereka duduk di bagian depan. Tak lama mereka di sana, mobil sudah pergi meninggalkan lorong sepi itu dan membelah kota.
Beberapa tikus mengendus-endus. Mereka mendekati bekas makanan-makanan semalam dan tadi pagi: sayur-sayuran dan roti-roti basi bikinan rumah makan yang tak laku. Beberapa diantaranya mendekati pula karung besar itu, karung itu pun bergerak-gerak, terjatuh dan kemudian meggelinding. Tikus-tikus itu menjadi lari tunggang langgang, mencericit ke sana kemari, dan masuk ke dalam celah-celah sampah. Seorang gelandangan datang mengais-ais sampah. Keranjang dari punggungnya, ia geletakkan begitu saja. Dia pun menyender di dekat tong, mengamat-amati karung besar itu, namun tak dihiraukannya.
Ia mengambil sebuah botol air mineral bekas di sampingnya, kemudian ia tenggak sisa-sisa airnya. Jakunnya terlihat naik turun. Lantas dibuangnya cepat sampai mengenai karung besar itu, mukanya terlihat tak suka dengan rasa air mineral sisa yang ditenggaknya. Ia sedikit mengumpat. Raut mukanya terlihat sudah banyak yang keriput di sana-sini, sudah berumur dan hari ini sepertinya sudah capai mengitari kota. Tak sampai lima menit, ia pun telah terlelap di sana.
Angin berhembus, kertas-kertas dan plastik melayang-melayang. Langit makin gelap, namun hujan belum juga turun.
**
PARA wartawan kota itu, telah memenuhi kantor bupati. Sudah tiga jam mereka menunggu. Ketika keluar dari kantornya, para pengawalnya sibuk melindungi bupati itu dari kejaran wartawan.
“Perempuan itu siapa, Pak?” celetuk salah satu wartawan.
Kontan membuat kepala bupati itu menoleh dan mukanya berhadapan dengan wartawan itu. Bibirnya ingin berkata, tapi tak bisa. Ia terus senyum, melambai-lambaikan tangan.
“Bapak capai, bapak capai, …” para ajudannya terus membentengi dari wartawan.
“No comment, saya tak tahu soal itu,” akhirnya suara itu keluar juga dari mulut bupati.
Tapi buru-buru ia meninggalkan kantornya, dengan mobil dinasnya. Para pekerja media itu pun lemah lunglai, tak ada berita. Tapi kata-kata dan ekspresi wajah bupati itu, sudah menjadi berita, pikir mereka. Dan, esok harinya, berita itu makin gempar.
“An, kenapa bisa seperti ini, katanya kau sudah atur soal itu. Percuma, aku bayar mahal-mahal, kau dipecat.”
Badannya dijatuhkan di sofa, sambil memegang kepalanya. Bupati itu terus-menerus nerocos tanpa henti. Aib itu membuat hatinya tak tenang. Kepalanya pening, beberapa kali air putih ditenggaknya. Istrinya pun gelisah.
“Sebenarnya ada apa sih, Pa,” tanya istrinya.
Suaminya diam.
“Papa punya perempuan lain, ya?”
Tak ada suara. Semuanya diam.
“An, katakan pada ibu, siapa perempuan yang disebut-sebut di dalam koran itu.”
Andre, pengawal bupati itu, tak bisa menjawab. Dia pun gelisah. Kerjanya dinilai tek becus, untuk mengurus seorang perempuan.
“Mama, cukup.” Bupati itu membentak istrinya. Dia pun terisak, kaget suaminya berubah seperti neraka. Belum pernah dia melihat suaminya semarah itu. Dia pun pergi ke dalam, sambil terisak-isak.
Bupati itu kemudian mengadakan rapat. Entah apa yang dibicarakan mereka. Sempat sebuah tamparan mengenai wajah Andre. Ia hanya bisa manggut-manggut dan menunduk.
“Besok akan saya cari tahu, Pak,” Andre meyakinkan bosnya itu.
“Temui aku di Hotel Duta pukul 18.00, kamar nomor 1808,” seloroh bupati itu.
Mukanya terlihat masih kesal. Rahangnya berkali-kali mengeram. Rokok di tangannya dimatikan ke dalam anggur yang sisa setengah. Ia biasa minum anggur jika tak di depan istrinya.
**
KORAN-koran telah memuat berita soal seorang perempuan yang mengaku sebagai simpanan bupati kota itu. Perempuan itu dalam jumpa persnya di sebuah cafe terkenal di kota itu berkoar-koar mengaku telah dikecewakan sebagai simpanan bupati. Dia membeberkan kebohongan-kebohongan yang dilakukan kepala daerah itu. Soal kecurangan-kecurangan dalam pemilihan sebelumnya, soal penggelapan dana bantuan langsung tunai (BLT), penggelembungan dana proyek pembangunan jalan dan pendopo kantor bupati, suka main judi di luar kota dan bersama wanita-wanita simpanan lainnya.
“Mengapa Anda mengungkapkan ini sekarang. Apakah Anda dikecewakan,” salah seorang wartawan memotong kata-katanya.
Perempuan itu tersenyum.
“Tentu. Terlalu gombal, dia selalu bohong. Kalau mas-mas tahu, uang kota ini hanya buat main perempuan sama foya-foya. Kalau kebetulan pas acara pengajian di masjid, tampangnya dibuat sok alim. Dia memang pintar merubah mukanya. Topengnya banyak,” gerutunya sambil sesekali membenahi bajunya yang minim dan ketat. Sehingga payudaranya terlihat menyembul keluar, yang membuat mata-mata wartawan laki-laki gelagepan untuk menolaknya.
“Apa motif Anda bicara begitu, ada yang membayar Anda begitu,” timpal wartawan lain.
“Oh Anda pikir ini politis,” senyumannya kembali tersungging, “Tak ada yang membayar saya. Saya ini pengusaha roti, saya cuma sudah bosan dengan gombalannya. Jadi tolong, jangan dikait-kaitkan dengan politik. Itu jauh mas, jauh.. . gitu aja, ga usah dibikin repot,” ujarya sambil matanya mengerling pada wartawan itu, sehingga membuat orang-orang itu di situ tertawa geli. Sementara wartawan itu tertohok pada kegenitan perempuan yang masih umur tiga puluhan itu.
“Seberapa besar ini masalah pribadi bukan politik,” tanya seseorang dari balik kameramen. Ia tak terlihat, cuma suaranya yang terdengar.
“Siapa tuh, kok ada suara tanpa rupa,” orang-orang pun tertawa geli. Memang wanita itu pintar sekali menggoda dan sedikit genit. Suaranya juga melankolik. Aduhai bagai penyiar radio.
“Oke saya jawab deh, begini ya, kalau ditanya seberapa besar, menurut mas sebesar apa ya, bisa dikonkretkan, mungkin sebesar buah kelapa atau gunung…”
Semuanya pada terbahak-bahak, geli cekikikan mendengar jawaban wanita itu. Bukan karena masalah jawabannya, tapi ketika menjawab tangannya mengarah pada dadanya itu. Para lak-laki pun pada menelan ludah masing-masing. Ada yang berpikir, wanita ini gila, aji mumpung, pengen eksis dan terkenal dan bla, bla, bla.
“Sudah-sudah, yang jelas ini murni karena saya dikecewakan terlalu dalam. Selain itu, biar rakyat kota ini tahu siapa sebenarnya dia, biar ke depan kota ini menjadi damai dan sejahtera, itu saja. Cukup sekian.”
Perempuan itu kemudian meninggalkan tempat duduknya, diiringi beberapa bodyguard-nya, sesekali melambai-lambaikan tangannya. Tas mungilnya digamit tangan kirinya. Rambutnya yang ikal berkilau-kilau diterpa kilatan blitz kamera.
“Mbak-mbak, tadi nama lengkapnya siapa,” celetuk wartawan.
“Mira Saraswati, pengusaha roti Manasuka,” serunya.
Semenjak itu, semua penduduk kota mengutuk dan mengecam bupati itu. Ada yang meminta mundur secepatnya, demo berhari-hari, membakar tong dan ban di alun-alun, para ibu-ibu pengajian juga mencela perempuan itu dan meminta bupati itu bertanggung jawab karena telah mencoreng nama baik kotanya, yang terkenal religius, aktivis-aktivis LSM mendesak bupati itu diadili dan dipenjara, entah data dari mana, aktivis itu mengatakan bupati telah melakukan korupsi. Tak ketinggalan para petani pun unjuk rasa meminta keadilan soal harga beras dan pupuk. Belakangan diketahui bupati itu meminta kepala koperasi meninggikan harga pupuk dan membeli beras dengan harga murah, hasilnya pun dibagi dengan bupati itu. Kota itu sudah menjadi kacau. Hampir-hampir kantor bupati mau dibakar, untungnya polisi telah siap siaga.
**
“APAKAH kau sudah mengecek rumahnya,” kata Komandan Polisi kota itu.
“Beberapa anggota sudah menyelidiki, tak ditemukan satu pun barang atau lainnya yang mencurigakan seperti dugaan semula,” jawab bawahannya.
“Tapi foto itu, setidaknya bisa mendukung, kan?,” selidik Komandan.
“Saya kira belum pasti, wartawan yang memberikan foto itu, tak kenal siapa orang itu, dia hanya melewati dan memotretnya. Selebihnya, dia tak tahu,” ujar bawahannya.
“Apa dia tak kenal muka, begitu?
“Katanya, hari itu mendung, kurang bisa melihat jelas.”
Komandan Polisi itu diam. Tangannya sesekali memegang foto-foto di depannya, memutar-mutarnya. Kelima jarinya mengetuk-etuk meja. Badannya disenderkan ke belakang. Tiba-tiba ia kembali bangun dari tempat duduknya. Ia menyulut rokok, mengambil payung dan topinya.
“Ikut aku,” ajaknya pada bawahannya. Ia mengikuti komandannya, tak lupa sambil menyambar beberapa foto tadi.
Kantor polisi kota itu dikagetkan dengan temuan mutilasi di lorong sudut kota itu. Laboratorium forensik RS Kepolisian masih meneliti dan beberapa hari kemudian diketahui bahwa mayat itu adalah bupati kota itu sendiri. Beberapa hari sebelumnya, bupati kota itu ada dinas luar kota selama empat hari, namun sampai hari ke lima belum juga ada kabarnya.
Mobil polisi itu akhirnya menepi di sebuah jalan sepi. Di bawah pohon akasia yang rimbun. Jalanan masih basah sebab hujan baru reda beberapa saat. Kabut pun tampak pelan menyelimuti di beberapa ruas. Lampu merkuri yang temaram, menambah malam semakin sunyi.
Komandan Polisi itu menyalakan rokok lagi. Anak buahnya ditawari, tapi dia menolak. Dia lebih suka rokok merek kesukaannya. Radio panggil dalam posisi stand by. Sementara keduanya hanya mengamati, sesekali bercerita.
“Kok ke sini lagi pak,” tanya anak buahnya.
“Sudah, kita malam ini di sini dulu, aku juga mau sekalian cerita,” jawab Komandan Polisi itu.
Anak buahnya tak terkejut mendengar kata-kata itu. Tapi cukup bosan juga, sudah seringkali dia mendengar, atasannya itu megeluhkan soal keluarganya. Apalagi istrinya yang terlalu mengekangnya. Dia pun menghempaskan tubuhnya ke jok yang sudah dicondongkan ke belakang.
“Dua hari istriku tak mau tidur denganku,” Komandan Polisi itu tiba-tiba saja bercerita soal rumah tangganya.
“Baru dua hari, aku saja sama sekali belum pernah, Ndan,” timpal anak buahnya sedikit mencandai.
“Lekas-lekaslah menikah, keburu tua dan tak berguna itu,” seloroh Komandannya sambil menujuk ke arah celananya.
“Ha, ha, ha, Komandan bisa saja, tapi kalau aku nanti menikah terus seperti Komandan, gimana?”
“Heh, itu celaka namanya.”
Keduanya tertawa, tapi tak begitu keras. Bir pletok yang dibelinya tadi, baru diminumnya. Keduanya cekikikan ketika Komandan menceritakan bagaimana istrinya marah, ketika bercumbu, dia salah menyebut nama, yang ia sebut bekas istrinya dulu.
“Heran aku, kenapa bisa begitu,” tutur Komandan.
Anak buahnya hanya geleng-geleng kepala sambil cekikikan sendiri. Rokok keduanya sudah habis. Kabut bergerak pelan, semakin pekat. Sesekali pudar diterpa angin. Dua orang laki-laki beriring memasuki sebuah rumah, tepat di depan mobilnya.
Anak buahnya mengambil foto-foto. Ia mencocokkan.
“Cocok,” katanya
“Apanya?” tanya Komandan.
“Lihat,” dia memperlihatkan foto-foto itu dan menunjuk pada kedua laki-laki tadi.
“Persis. Kita intai saja dulu. Itu rumah pengusaha roti, tentu saja aku masih sangsi, apa benar laporan dugaan itu. Apalagi wartawan foto itu, tak tahu pasti.”
“Semoga saja, besok belum ada koran-koran yang mengangkat isu ini. Ini berbahaya.”
Anak buahnya manggut-manggut. Komandan menyulut rokok, tape diputar, lagu-lagu keroncong menemani mereka sampai larut. Sampai keduanya tak sadar kedua orang yang dintainya telah pergi. Gerimis kembali jatuh, kabut-kabut pelan tergusur dan terganti basah.
Sayup-sayup terdengar senandung lagu jazz dari sebuah rumah. Seorang perempuan terlihat dibalik jendela, memakai gaun malam dan berdansa dengan seorang laki-laki.
“Seksi sekali malam ini,” kata laki-laki itu
“Sudahlah, aku sudah muak dengar kata-kata itu. Yang jelas di pemilihan nanti aku yakin kau akan menang,” ucapnya lirih di kuping Andre.
Keduanya berpelukan setelah segelas anggur ditangan mereka telah habis mereka tenggak. Dan mereka pun berdansa mengikuti alunan jazz itu. Bergoyang ke sana kemari. Dan perempuan itu mulai merayu, dibelai-belai kumisnya yang tebal itu. Mata mereka saling bertatapan, dada keduanya berdegup. Di luar malam makin sunyi, rintik-rintik hujan makin membuat mereka semangat.
Pamulang, 20-23 Juli 2009
Posted by nurrahman18 on November 3, 2009 at 8:21 am
wah anyar maneh ki..hehehe
http://www.arifnurrahman.com
Posted by arif on Januari 31, 2010 at 4:05 am
suwe ora di-update gan…
Posted by arif on Maret 7, 2010 at 12:09 pm
suwe ra diupdate bro??